Hikmah di Balik Kemaksuman Nabi

0 14

Sebagai manusia, Nabi Muhammad saw memiliki kecenderungan yang tidak jauh berbeda dangan manusia umumnya. Saat masih kecil di perkampungan Bani Sa’ad, beliau bermain dengan anak-anak kecil seusianya. Bukan hanya saat masa kanak-kanak.

Menginjak usia muda pun, beliau juga seperti anak muda pada umumnya. Beliau melakukan dan menyukai apa yang dilakukan dan disukai pemuda seusianya. Bedanya, jika pemuda biasa tidak mendapat jaminan terhindar dari berbuat maksiat, Muhammad muda dijamin dan dilindungi oleh Allah terhindar dari maksiat atau maksum.

Dikisahkan, saat beliau menggembala kambing bersama temannya. Waktu telah menunjukkan malam hari. Kepada teman sepenggembalaannya itu, beliau menitipkan kawanan domba yang miliknya, “Bagaimana jika kau menjaga dombaku, agar aku dapat memasuki kota Makkah untuk mengobrol sebagaimana yang dilakukan pemuda lainnya di sana?” Teman itu kemudian bersedia membantu untuk menjaga sementara kawanan dombanya, lantas beliau berangkat masuk ke kota Makkah. Baru melewati rumah pertama di Makkah, beliau mendengar suara riuh.

Kepada orang yang ditemui beliau menanyakan, “Ada apa gerangan?” tanyanya penasaran. “Ada pesta pernikahan,” jawab orang-orang. Beliau pun duduk, mendengarkan lantunan suara pesta orang-orang Jahiliyah itu. Beliau tertarik mendengarnya dan berniat untuk berkunjung ke lokasi pesta berlangsung. Tentu, itu adalah pesta pernikahan yang dilakukan pada zaman Jahiliyah. Hal-hal tidak baik yang biasa dilakukan masyarakat Jahiliayah pada waktu itu bisa saja terjadi dalam pesta. Seperti meminum khamr, memakan hidangan yang tidak halal, ataupun lainnya. Belum sempat beliau melangkah, tiba-tiba Allah menutup telinga Muhammad.

Tidak lagi terdengar suara pesta itu. Tidak hanya itu, Allah memberikan rasa kantuk pada diri Muhammad dan baru terbangun ketika hari sudah pagi. Suara pesta yang semalam riuh, sudah tak terdengar sedikitpun. Pesta sudah berakhir. Subhânallâh. (Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Fiqhus Sîrah an-Nabawiyyah, halaman 76). Sejak saat itu, Muhammad muda berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Cukup dua kali itu saja.

Di kemudian hari Rasulullah saw berkata:

ما هممتُ بشيءٍ مما كانوا في الجاهليةِ يعملونه غيرَ مرتَينِ، كلُّ ذلك يحُول اللهُ بيني وبينَه، ثم ما هممتُ به حتى أكرمَني اللهُ بالرِّسالةِ

Artinya:“Aku tidak pernah berniat melakukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh orang-orang pada masa jahiliyah, kecuali hanya dua kali. Akan tetapi, pada kedua kesempatan itu pula Allah swt menghalangi antara diriku dan hal-hal buruk itu. Selanjutnya, aku tidak pernah berniat melakukannya lagi sampai Allah memuliakan diriku dengan kerasulan.” (HR Ibnul Atsir) Terkait kemaksuman Nabi Muhammad saw, baik sebelum atau sesudah diutus menjadi Rasul, para ulama mencatat secara detail dalam kitab-kitab mereka. Bahkan, dibuatkan bab khusus dalam beberapa kitab.

Seperti Abu Nu’aim al-Asfihani (wafat 430 H) dalam kitabnya Dalâilun Nubuwah, Imam as-Suyuti (wafat 911 H) dalam kitabnya al-Khashâishul Kubrâ. Lebih dari itu, ada satu kitab secara spesial membahas kemaksuman Nabi Saw, yaitu Raddu Syubuhâti Haula ‘Ishmatinnabi (Membantah Syubhat Seputar Kemaksuman Nabi saw) karya Syekh ‘Imad as-Syirbini. Hikmah Kemaksuman Nabi Setidaknya ada dua hikmah kemaksuman Nabi sebagaimana berikut. Hikmah pertama, kemaksuman menjadi bukti kenabian.

Sebagai nabi, sebagaimana nabi pada umumnya, Nabi Muhammad saw dijaga oleh Allah dari perbuatan-perbuatan buruk. Nabi saw dijaga dari perbuatan maksiat, bahkan sejak sebelum diangkat menjadi seorang nabi. Kemaksuman yang tidak dimiliki manusia pada umumnya ini merupakan bukti bahwa beliau adalah seorang nabi.

Dalam Al-Qur’ana Allah berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) (النجم: 3-4)

Artinya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS an-Najm: 3-4) Berkaitan ayat di atas, Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 1210 M) menjelaskan: “Bisa dikatakan, ayat وَما يَنْطِقُ عَنِ الْهَوى menjadi bukti Nabi saw tidak pernah tersesat dan melenceng. Sehingga perkiraan makna yang tepat untuk ayat tersebut adalah, ‘Bagaimana mungkin Nabi saw tersesat atau melenceng, sedangkan ucapannya bukan atas dasar hawa nafsu. Hanya orang yang mengikuti hawa nafsu yang akan tersesat’.” (Ar-Razi, Mafâtîhul Ghaib, juz XXVIII, halaman 280).

Sementara itu Dr. Musthafa as-Shiba’i menjelaskan, pada masa muda, Nabi Muhammad saw tidak pernah terlibat melakukan senda gurau dan hal-hal yang tidak patut bersama teman sebayanya. Allah telah menjaganya dari perbuatan semacam itu. (As-Shiba’i, Sîratun Nabawiyyah Durûsun wa ‘Ibar, halaman 20). Demikian pula Syekh Said Ramadhan al-Buthi menegaskan, semua ini merupakan bukti bahwa Nabi saw langsung dibimbing oleh Allah swt tanpa melalui perantara apapun. (Al-Buthi, Fiqhus Sîrah, halaman 79).

Hikmah kedua, track record atau rekam jejak seorang dai sangat berpengaruh dalam dakwahnya. Dr. Musthafa as-Shiba’i menegaskan, banyak orang berdakwah dan mengajak umat untuk memiliki budi pekerti baik, tetapi karena memiliki masa lalu kelam, akhirnya masyarakat berpaling dari ajakannya. Bahkan masa kelam yang pernah dilalui olehnya menimbulkan keraguan bagi masyarakat untuk menerima dakwahnya. (As-Shiba’i, Sîratun Nabawiyyah, halaman 23). Maksud as-Shiba’i, seorang dai yang mengajak pada kebaikan jika memiliki masa lalu kelam, bisa jadi ada saja orang yang tidak senang dengan dakwahnya, lalu mengungkit-ungkit masa lalunya. Sehingga mengurangi kepercayaan masyarakat.

Masa lalunya saja suram, bagaimana bisa mengajak orang lain pada kebaikan. Nabi Muhammad saw langsung dididik oleh Allah swt. Artinya, sebelum kelak terjun menyampaikan risalah mengajak pada kebaikan dan mencegah dari keburukan, Allah sudah siapkan segala hal yang akan mendukungnya. Termasuk agar kelak ketika berdakwah, beliau tidak dicela kafir karena punya masa lalu kelam. Bisa jadi, kalau Nabi saw tidak maksum, orang akan melakukan konspirasi menjatuhkan Nabi saw dengan menyebarkan aib masa lalunya kelam, sehingga menimbulkan keraguan terhadap khalayak umum atas misi dakwah yang diembannya. Tapi, sungguh tidak ada celah untuk itu dalam diri Nabi saw. Wallâhu a’lam.

Loading...